“Jangan takut-takut” warisan Tino Sidin

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Warna ekspresi dunia karya seni dari seseorang, tingkah laku pribadinya, predikat serta lingkungan dimana si seniman itu tinggal dan berasal akan teranyam sedemikian rupa secara alami, sehingga sukar sekali untuk secara tegas dibuat pemisahan antara satu dari lainnya. Mendengar nama Tino Sidin dan melihat karya-karyanya, banyak orang di Yogyakarta bahkan di Indonesia tentu saja akan teringat pada satu sosok guru gambar yang selalu tampil dengan bertopi baret hitam yang pernah selama beberapa tahun mengisi acara Gemar Menggambar untuk anak-anak di televisi.

Dibalik Konsep “Garis Lurus, Garis Lengkung” Tino Sidin

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Bagi kebanyakan murid Sekolah Rakyat hingga sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Dasar menggambar menjadi mata pelajaranyang sulit dan kurang menyenangkan. Bagaimana tidak, murid / siswa harus bisa menggambarkan benda – benda, orang, tetumbuhan atau lainnyayang ditentukan oleh gurunya, secara persis seperti apa yang terlihat. Orientasi kepada pengamatan mata akan sebuah objek menjadi pegangan utama seorang guru gambar. Hukum – hukum perspektif, terang-gelap, proporsi bahkan tekstur menjadi patokan akan hasil sebuah gambar.

Mengenang Tino Sidin

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Pada awalnya TINO belajar “menggambar” secara otodidak. Hal ini tidak aneh bila kita ketahui bahwa ditempat dia lahir dan dibesarkan ketika itu belum ada tokoh yang kini biasa disebut “Pelukis” , apalagi sebuah sekolah seni lukis, tempat orang dapat berguru secara formal. Dia dilahirkan di Tebing Tinggi , sebuah kota kecil di pantai timur pulau Sumatera, pada tanggal 25 Nopember 1925. Studi formal melukis baru dapat dialaminya selama periode 1961- I 963 di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.