Pak Tino

Pak Tino (1925-1995) lebih dikenal sebagai guru gambar yang sangat populer dengan ‘reward statement’-nya ‘Ya ... Bagus’ pada era 1980-an lewat layar kaca TVRI oleh masyarakat. Lebih dari itu, Pak Tino sebenarnya adalah pribadi yang multi dimensional.

Pak Tino adalah pejuang kemerdekaan, aktif di kepanduan, palang merah, art director beberapa film, pemain film, penulis, guru kebatinan yang dekat dengan Bung Karno dan Pak Harto.

Perjalanan hidup yang berliku-liku dari Tebing Tinggi, Medan, Yogyakarta, Jakarta, Binjai dan banyak kota lain; ikatan kuat dengan Taman Siswa, melalui bermacam era mulai dari era perjuangan, era kemerdekaan dan orde baru dan kedekatan beliau dengan orang-orang besar negeri ini menjadikan Pak Tino sebagai sosok yang sangat inspiratif.

Lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Barat pada 25 November 1925 dari pasangan Pak Sidin dan Ibu Tini, Tino tumbuh di bawah asuhan kakeknya Suro Sentono. Tino sejak kecil sangat suka menggambar dan belajar secara otodidak. Karya Tino mulai tampak kiprahnya sejak pendudukan Jepang. Bakat alamiah Tino Sidin ditemukan tanpa sengaja oleh tentara Jepang ketika menggambar di pasir. Ia kemudian diangkat sebagai pembuat poster propaganda Jepang dengan jabatan Kepala Bagian Poster Jawatan Penerangan di Tebing Tinggi pada 1944.

Pasca kemerdekaan, Tino Sidin bersama Daoed Joesoef dan Nasjah Djamin mendirikan Kelompok Angkatan Seni Rupa Indonesia di Medan. Di sini Tino juga aktif di kepanduan dan kepalangmerahan.

Tahun 1946, Tino Sidin pindah ke Yogyakarta. Melukis atau membuat sketsa, membuat propaganda anti Belanda, sekolah, bergerilya dan aktif di kepanduan adalah kesehariannya.

Pada Februari 1949, Tino ke Jakarta dengan bergabung Batalyon X Divisi Siliwangi. Long march bersejarah ini terekam dalam sketsa-sketsa (kumpulan sketsa ini pernah diserahkan kepada Komandan Pasukan Siliwangi, tetapi ditolak karena dianggap sebagai lukisan yang belum jadi).

Tahun 1951, Tino Sidin kembali ke Tebing Tinggi untuk mempersunting Nurhayati dan menjadi guru olahraga di Taman Dewasa (SMP) Tamansiswa, setahun kemudian mereka pindah ke Binjai. Di kota inilah karir melukis Tino Sidin mulai dikenal dengan nama Tino’S.

Tahun 1961, Tino Sidin kembali ke Yogyakarta setelah mendapat tawaran bea siswa di Akademi Seni Rupa Indonesia. Setahun kemudian, istri dan anak-anak beliau boyong ke Yogyakarta.

“Tino banyak membuat sketsa yang sangat bernilai dokumenter. Dia pernah mau menyerahkan sketsa-sketsanya itu kepada komandan kesatuan yang diikutinya sejak keluar dari Yogya agar diarsipkan sebagai dokumen perjuangan pasukan Divisi Siliwangi. Komandan tersebut menolak karena sketsa-sketsa itu dianggapnya sebagai gambar atau karya seni yang belum selesai. Nasib sketsa perjuangan yang pernah kubuat kiranya tidak lebih baik daripada itu.”

Daoed Joesoef,

(dalam “Dia dan Aku Memoar Pencari Kebenaran”, Penerbit Buku Kompas, 2006:115)

Menjadi Guru Gambar

Dimulai dari ketertarikan dua orang ibu, Ny. Larasati Suliantoro Sulaiman dan Ny. Boldwin untuk membuat sanggar lukis anak maka terbentuklan sanggar menggambar Kelompok Seni Sono dengan pengasuh Pak Tino Sidin pada tahun 1968.

Tahun 1969, TVRI Yogyakarta mengundang Pak Tino untuk mengisi acara ‘Gemar Menggambar’. Lambat laun metode dan cara menggambar Pak Tino mulai menjadi ‘virus positif di kalangan anak-anak. Acara ini berlangsung hingga tahun 1978. Gemar Menggambar kemudian berpindah ke stasiun TVRI Pusat mulai 1979 hingga 1989.

Pada tahun 1972, Pak Tino terlibat dalam pembuatan film layar lebar ‘Sisa-sisa Laskar Pajang’ sebagai Art Director. Selain film tersebut, ia terlibat pula dalam film ‘Api di Bukit Menoreh’ (art director) dan ‘Nakalnya Anak-anak’ (aktor).

Pada tahun 1979 Pak Tino kembali ke Jakarta untuk tugas negara sebagai penatar guru gambar nasional serta mengisi acara ‘Gemar Menggambar’ di TVRI Pusat. Di Jakarta beliau juga mengasuh sanggar-sanggar gambar di seantero Jakarta. Sanggar-sanggar inilah cikal bakal berdirinya Taman Tino Sidin.

Pak Tino Sidin juga seorang penulis dan menghasilkan komik dewasa di tahun 1953 ‘Harimau Gadungan’ dan ‘Kalau Ibuku Pilih Menantu’. Komik anak-anak seperti ‘Anjing’, ‘Bandung Lautan Api’, ‘Bawang Putih Bawang Merah’, ‘Ibu Pertiwi’, ‘Serial Pak Kumis’, ‘Membalas Jasa’ dan beberapa judul lainnya. Di samping komik, juga ada buku cerita seri mewarnai bertajuk ‘Membaca Mewarnai Merakit’.

Ada pula buku mengambar bagi anak-anak seperti Gemar Menggambar Bersama Pak Tino Sidin (Kanisius 1975), Ayo Menggambar (Balai Pustaka) dan Menggambar dengan Huruf (Karya Unipress 1992) yang menjadi buku paling efektif dalam pola pengajaran menggambar.

Setelah bertahun-tahun memajukan dunia seni anak lewat menggambar, karena sakit akhirnya Pak Tino wafat pada 29 Desember 1995 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Pak Tino Sidin dimakamkan di makam Kwaron, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tidak jauh dari Taman Tino Sidin, Yogyakarta.

“Dalam perjalanan karir saya, saya selalu terinspirasi dengan coretan tangan beliau yang sederhana namun punya makna yang dalam untuk melahirkan kreativitas. Terima kasih Pak Tino Sidin.”

Rano Karno,

Artis-sineas, Wakil Gubernur Propinsi Banten (2012-2017)